Majelis Sholawat Simthudduror Griya Cimangir –  Bogor
Sekilas Info
  • 1 bulan yang lalu - Untuk saat ini Majelis Sholawat Shimthudduror Cimangir sementara dari rumah ke rumah sampai waktu yang tidak ditentukan
  • 2 bulan yang lalu - Malam Ahad, 17 Agustus 2019 kegiatan pengajian Majlelis Dzikir  Shalawat Simthudduror dilakasanakan di Kediaman Bapak Khodirun Cimangir
  • 2 bulan yang lalu - Malam Ahad, 10 Agustus 2019 Kegiatan pengajian rutin diliburkan mengingat berbarengan dengan Hari Besar Idul Adha 1440 H
Jam :
Diterbitkan :
Kategori : PIQH

Dalam Kitab “Bidayatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, keadaan suci (berwudhu) adalah syarat dibolehkannya seseorang untuk memegang Mushaf al-Qur’an.
Ahl Zahir menyatakan bahwa keadaan suci bukan syarat diperbolehkannya seseorang untuk memegang mushaf.
Sebab perbedaan pendapat dalam memaknai surat al-Waqi’ah ayat 79 yang berbunyi:
لُا يَمَسُهُ اِلَا المُطَهَرُوْنَ

Ada dua hal yang menyebabkan adanya perbedaan pendapat.
Pertama, dalam kalimat al-Mutahharun, sebagian memaknainya dengan “Malaikat” dan ada pula yang memaknainya dengan “Bani Adam”.
Kedua, dari sisi struktur kalimat, ada yang berpendapat bahwa kalimat itu berisi “Larangan”, ada pula yang menyebutkan bahwa kalimat itu adalah “Khabar”. Jika surat al-Waqi’ah ayat 79 disebutkan sebagai “Larangan” maka artinya adalah “Tidak boleh menyentuhnya (Mushaf) kecuali orang yang suci”. Sementara jika struktur kalimatnya adalah “Khabar” maka ayat di atas artinya adalah “Tidak dapat menyentuh (makna Mushaf) kecuali orang yang suci”.

Pendapat yang mewajibkan keadaan suci sebelum memegang Mushaf, karena memahami al-Mutahharun sebagai Anak Adam dan struktur kalimat tersebut berisi “Larangan”.
Sedangkan pendapat yang memaknai al-Mutahharun adalah “Malaikat”, dan kalimat itu adalah “Khabar”, maka mereka tidak mewajibkan suci sebelum memegang Mushaf. Sepanjang tidak ada dalil yang secara tegas melarang, maka hukumnya kembali ke asal yaitu diperbolehkan memegang Mushaf tanpa wudhu
Jumhur Ulama yang menyatakan bahwa harus berwudhu sebelum memegang Mushaf selain dengan dalil surat al-Waqi’ah ayat 79, juga berargumentasi dengan hadits Thabrani yang menyebutkan tidak boleh menyentuh Mushaf kecuali yang suci (لَا يَمَسُ القُرانَ الا طَاهِرٌ).

(BM Hal 39-40)

SebelumnyaAdzan Subuh Dua Kali SesudahnyaTanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham
MALAM NISFU SYA'BAN MALAM NISFU SYA’BAN
MALAM NISFU SYA’BAN ba’da Maghrib ( 20-21 April 2019 ) Malam Nisfu Sya’ban Jatuh Pada Malam Minggu 20 April 2019 atau Sabtu Malam Malam ke 15 bulan Sya’ban, . Nabi...
TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT    TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT  
Pertanyaan :_ Assalamualaikum. Ustadz, saya mau bertanya.. Apakah benar kalau seseorang tidak menunaikan shalat Jum’at sebanyak 3x berturut-turut berarti ia telah kafir? Apakah haditsnya shahih? Jazâkumullâhu khairan. _Jawaban :_ Hadits...
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Hukum Jual Kulit Hewan Kurban
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan...
Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham
” Hukum Trading Saham ” Oleh: Dr. Oni Sahroni, M.A Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Ustadz. Bagaimana hukum main saham atau trading saham, di mana beberapa pelaku bisnis melakukan trading saham...
Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf
Dalam Kitab “Bidayatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, keadaan suci (berwudhu) adalah syarat dibolehkannya seseorang untuk memegang Mushaf al-Qur’an. Ahl Zahir menyatakan...
Adzan Subuh Dua Kali Adzan Subuh Dua Kali
Pada saat liburan Desember 2017, penulis berkesempatan silaturrahim ke salah satu pesantren di Yogyakarta. Menginap satu malam di pesantren tersebut, penulis mendapatkan pengalaman yang unik pada waktu Subuh. Di tengah...