Majelis Sholawat Simthudduror Griya Cimangir –  Bogor
Sekilas Info
  • 1 bulan yang lalu - Untuk saat ini Majelis Sholawat Shimthudduror Cimangir sementara dari rumah ke rumah sampai waktu yang tidak ditentukan
  • 2 bulan yang lalu - Malam Ahad, 17 Agustus 2019 kegiatan pengajian Majlelis Dzikir  Shalawat Simthudduror dilakasanakan di Kediaman Bapak Khodirun Cimangir
  • 2 bulan yang lalu - Malam Ahad, 10 Agustus 2019 Kegiatan pengajian rutin diliburkan mengingat berbarengan dengan Hari Besar Idul Adha 1440 H
Jam :
Diterbitkan :
Kategori : PIQH

Sutrah adalah pembatas yang digunakan sebagai tanda oleh seseorang yang sedang shalat agar tidak dilewati oleh pejalan kaki dan juga digunakan untuk membatasi pandangan agar seseorang yang sedang shalat tidak melihat sesuatu di belakang sutrah tersebut. Para Ulama memiliki perbedaan pendapat terkait dengan peletakan sutrah saat shalat.

Sayyid Sabiq dalam bukunya “Fiqh al-Sunnah” menjelaskan bahwa hukum penggunaan sutrah adalah Sunnah. Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat imam Abu Daud dan Ibn Majah, Rasulullah bersabda; “Jika seorang di antara kalian melaksanakan shalat, maka hendaklah ia menaruh sutrah dan mendekat kepadanya!” Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah biasa membawa tempat minum saat bepergian, kemudian menaruh tempat minum tersebut (sebagai sutrah) di depannya ketika hendak melaksanakan shalat.

Menurut Pengikut Mazhab Imam Malik dan Abu Hanifah, penggunaan sutrah disunnahkan bagi seseorang yang melaksanakan shalat, jika ada kekhawatiran atau dugaan kuat akan adanya orang yang berjalan di depannya. Adapun jika tidak ada kekkhawatiran tersebut, maka tidak disunnahkan untuk menggunakan sutrah. Hal ini didasarkan hadits riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan al-Baihaqi, yang menjelaskan bahwa Rasululullah melaksanakan shalat di tempat yang kosong (sepi), dan beliau tidak meletakkan apapun di depannya.

Adapun bentuk sutrah itu sendiri sangat beragam dalam shalat. Sutrah dapat berupa anak panah, tempat minum, tongkat, bahkan juga dapat berupa garis sekalipun. Dengan demikian garis-garis dalam sajadah yang digunakan dalam shalat, sudah cukup untuk menjadi sutrah.

Imam Ibn Rusyd menyebutkan dalam “Bidayat al-Mujtahid” bahwa Mayoritas ulama menghukumkan bahwa berjalannya seseorang di depan orang yang shalat, tidak sampai membatalkan shalat tersebut. Jumhur Ulama juga berpendapat bahwa hukum orang yang berjalan di depan orang yang sedang shalat adalah makruh.

Referensi:
Ibn Rusyd, Bidayat al-Mujtahid, (Mesir, Maktab al-Syuruq, 2015), 146
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Mesir, Dar al-Fath, 2010), 182-183

SebelumnyaMereka Berbeda dalam Ukuran Membasuh Kepala SesudahnyaArah Ka’bah atau ‘Ain al-Ka’bah
MALAM NISFU SYA'BAN MALAM NISFU SYA’BAN
MALAM NISFU SYA’BAN ba’da Maghrib ( 20-21 April 2019 ) Malam Nisfu Sya’ban Jatuh Pada Malam Minggu 20 April 2019 atau Sabtu Malam Malam ke 15 bulan Sya’ban, . Nabi...
TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT    TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT  
Pertanyaan :_ Assalamualaikum. Ustadz, saya mau bertanya.. Apakah benar kalau seseorang tidak menunaikan shalat Jum’at sebanyak 3x berturut-turut berarti ia telah kafir? Apakah haditsnya shahih? Jazâkumullâhu khairan. _Jawaban :_ Hadits...
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Hukum Jual Kulit Hewan Kurban
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan...
Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham
” Hukum Trading Saham ” Oleh: Dr. Oni Sahroni, M.A Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Ustadz. Bagaimana hukum main saham atau trading saham, di mana beberapa pelaku bisnis melakukan trading saham...
Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf
Dalam Kitab “Bidayatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, keadaan suci (berwudhu) adalah syarat dibolehkannya seseorang untuk memegang Mushaf al-Qur’an. Ahl Zahir menyatakan...
Adzan Subuh Dua Kali Adzan Subuh Dua Kali
Pada saat liburan Desember 2017, penulis berkesempatan silaturrahim ke salah satu pesantren di Yogyakarta. Menginap satu malam di pesantren tersebut, penulis mendapatkan pengalaman yang unik pada waktu Subuh. Di tengah...