Majelis Sholawat Simthudduror Griya Cimangir –  Bogor
Sekilas Info
  • 3 bulan yang lalu - Untuk saat ini Majelis Sholawat Shimthudduror Cimangir sementara dari rumah ke rumah sampai waktu yang tidak ditentukan
  • 4 bulan yang lalu - Malam Ahad, 17 Agustus 2019 kegiatan pengajian Majlelis Dzikir  Shalawat Simthudduror dilakasanakan di Kediaman Bapak Khodirun Cimangir
  • 4 bulan yang lalu - Malam Ahad, 10 Agustus 2019 Kegiatan pengajian rutin diliburkan mengingat berbarengan dengan Hari Besar Idul Adha 1440 H
Jam :
Diterbitkan :
Kategori : PIQH

Seluruh ulama bersepakat bahwa menghadap Qiblat adalah bagian dari syarat sahnya shalat. Hal tersebut mengacu pada suat al-Baqarah ayat 149 yang berbunyi:
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram,
Termasuk yang menjadi kesepakatan adalah kewajiban menghadap Qiblat, adalah apabila berada di dalam Masjid al-Haram maka wajib menghadap ke Ka’bah itu sendiri.

Perbedaan pendapat terjadi bagi mereka yang hendak shalat dan tidak dapat melihat Ka’bah. Apakah yang wajib menghadap “Ain al-Ka’bah” (persis Ka’bahnya) atau “Jihah” (arah)?
Sebagian Ulama mengharuskan menghadap ke “Ain al-Ka’bah”, maka dengan alat mutakhir dapat diketahui Qiblat tersebut secara tepat. Konsekuensinya, dapat ditemukan di beberapa masjid perubahan Qiblat yang sangat terlihat, berbeda dengan awalnya saat masjid tersebut dibangun.

Sementara sebagian yang memaknai “Syatr” sebagai “al-JIhah”, maka menghadap ke arah Qiblat, sudah memenuhi syarat sahnya shalat, tanpa harus menghadap ‘Ain al-Ka’bah itu sendiri.

Adapun beberapa pengecualian keharusan menghadap Qiblat adalah shalat pada saat bepergian di dalam kendaraan atau shalat saat mengendarai kendaraan dalam peperangan. Pada saat bepergian dan peperangan, menghadap sesuai ke arah kendaraan sudah memenuhi syarat sahnya shalat. Adapun shalat di daerah baru, maka ijtihad mencari arah Qiblat menjadi satu keharusan. Jika sudah melakukan ijtihad ternyata keliru, sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 286.

By ; Ustadz Abdul Ghoni

SebelumnyaBagaimana Hukum Sutrah saat Shalat? SesudahnyaAdzan Subuh Dua Kali
MALAM NISFU SYA'BAN MALAM NISFU SYA’BAN
MALAM NISFU SYA’BAN ba’da Maghrib ( 20-21 April 2019 ) Malam Nisfu Sya’ban Jatuh Pada Malam Minggu 20 April 2019 atau Sabtu Malam Malam ke 15 bulan Sya’ban, . Nabi...
TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT    TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT  
Pertanyaan :_ Assalamualaikum. Ustadz, saya mau bertanya.. Apakah benar kalau seseorang tidak menunaikan shalat Jum’at sebanyak 3x berturut-turut berarti ia telah kafir? Apakah haditsnya shahih? Jazâkumullâhu khairan. _Jawaban :_ Hadits...
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Hukum Jual Kulit Hewan Kurban
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan...
Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham
” Hukum Trading Saham ” Oleh: Dr. Oni Sahroni, M.A Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Ustadz. Bagaimana hukum main saham atau trading saham, di mana beberapa pelaku bisnis melakukan trading saham...
Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf
Dalam Kitab “Bidayatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, keadaan suci (berwudhu) adalah syarat dibolehkannya seseorang untuk memegang Mushaf al-Qur’an. Ahl Zahir menyatakan...
Adzan Subuh Dua Kali Adzan Subuh Dua Kali
Pada saat liburan Desember 2017, penulis berkesempatan silaturrahim ke salah satu pesantren di Yogyakarta. Menginap satu malam di pesantren tersebut, penulis mendapatkan pengalaman yang unik pada waktu Subuh. Di tengah...