Majelis Sholawat Simthudduror Griya Cimangir –  Bogor
Sekilas Info
  • 3 bulan yang lalu - Untuk saat ini Majelis Sholawat Shimthudduror Cimangir sementara dari rumah ke rumah sampai waktu yang tidak ditentukan
  • 4 bulan yang lalu - Malam Ahad, 17 Agustus 2019 kegiatan pengajian Majlelis Dzikir  Shalawat Simthudduror dilakasanakan di Kediaman Bapak Khodirun Cimangir
  • 4 bulan yang lalu - Malam Ahad, 10 Agustus 2019 Kegiatan pengajian rutin diliburkan mengingat berbarengan dengan Hari Besar Idul Adha 1440 H
Jam :
Diterbitkan :
Kategori : PIQH

Pada saat liburan Desember 2017, penulis berkesempatan silaturrahim ke salah satu pesantren di Yogyakarta. Menginap satu malam di pesantren tersebut, penulis mendapatkan pengalaman yang unik pada waktu Subuh. Di tengah nyenyaknya istirahat malam di pesantren, penulis dibangunkan kumandang azan dari sebuah masjid. Spontan penulis bangun dari tidur dan bergegas ke masjid. Sesampai di masjid, penulis mendapatkan masjid dalam keadaan kosong, hanya sang Muazzin yang sudah stand by di dalam masjid. Setelah ada obrolan sebentar dengan Muazin, ternyata azan yang baru saja berkumandang bukanlah tanda masuk waktu Subuh. Namun sebagian lain, ada yang segera menunaikan shalat Subuh. Sampai akhirnya ketika azan Subuh berkumandang, maka ia pun harus mengulang shalat Subuhnya, karena memang dilaksanakan sebelum masuk waktunya.

Nah, bagaimana sebenarnya kumandang azan menjelang waktu shalat Subuh dalam kajian fiqih?
Seluruh Imam Mazhab bersepakat bahwa azan hanya boleh dikumandangkan setelah masuk waktunya.
Mereka berbeda pendapat terkait dengan azan Subuh. Imam Malik dan Syafi’i menyebutkan bahwa diperbolehkan azan Subuh sebelum masuk waktunya. Dengan demikian pada waktu Subuh ada azan pertama sebelum masuk waktu Subuh, dan azan kedua setelah masuk waktu Subuh. Pada zaman Rasulullah, Bilal yang terbiasa mengumandangkan azan pertama. Sementara Ibn Ummi Makum yang biasa mengumandangkan azan kedua.

Dalil yang memperbolehkan adanya azan sebelum Subuh adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasulullah bersabda; “sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan pada malam hari (sebelum Subuh), maka makan dan minumlah kalian sampai Abdullah ibn Ummi Maktum yang mengumandangkan azan (masuk waktu Subuh).
Imam Abu Hanifah menolak adanya azan sebelum waktu Subuh. Pendapat didasarkan pemahaman hadits Nabi dari Abdullah ibn Umar yang diriwayatkan Imam Abu Daud, “sesungguhnya Bilal mengumandangkan azan sebelum Subuh. Pada saatu masuk waktu Subuh, Rasululllah meminta Bilal untuk mengulangi azannya.” Pengulangan azan dalam hadits tersebut menunjukkan azan pertama tidak berlaku.

Dari perbedaan pendapat di atas menunjukkan diperbolehkan adanya 1 azan atau 2 azan pada waktu Subuh. Wawasan tersebut memungkinkan setiap Muslim untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dalam kumandang azannya. Jika satu lingkungan terbiasa diperdengarkan 2 azan, maka setiap Muslim masih diperbolehkan untuk melaksanakan shalat Tajajuud atau melanjutkan santap sahur ketika azan pertama dikumandangkan. Hal tersebut baru dilarang jika sudah ada azan yang kedua.

Adapun di satu komunitas yang sudah terbiasa dengan satu kali kumandang azan Subuh, maka shalat Tahajjud ataupun Santap sahur sudah tidak diperbolehkan dengan adanya azan tersebut.
Semoga bermanfaat…

By : DR. Abdul Ghoni, M.Hum

SebelumnyaArah Ka’bah atau ‘Ain al-Ka’bah SesudahnyaHukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf
MALAM NISFU SYA'BAN MALAM NISFU SYA’BAN
MALAM NISFU SYA’BAN ba’da Maghrib ( 20-21 April 2019 ) Malam Nisfu Sya’ban Jatuh Pada Malam Minggu 20 April 2019 atau Sabtu Malam Malam ke 15 bulan Sya’ban, . Nabi...
TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT    TIDAK SHALAT JUM’AT 3 KALI BERTURUT- TURUT  
Pertanyaan :_ Assalamualaikum. Ustadz, saya mau bertanya.. Apakah benar kalau seseorang tidak menunaikan shalat Jum’at sebanyak 3x berturut-turut berarti ia telah kafir? Apakah haditsnya shahih? Jazâkumullâhu khairan. _Jawaban :_ Hadits...
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Hukum Jual Kulit Hewan Kurban
Hukum Jual Kulit Hewan Kurban Sebagian masyarakat Indonesia belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan kurban. Motifnya beraneka ragam. Ada yang karena berada di daerah dengan tingkat kemampuan...
Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham Tanya Jawab Fiqh Muamalah : Hukum Trading Saham
” Hukum Trading Saham ” Oleh: Dr. Oni Sahroni, M.A Pertanyaan: Assalamualaikum wr wb Ustadz. Bagaimana hukum main saham atau trading saham, di mana beberapa pelaku bisnis melakukan trading saham...
Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf Hukum Wudhu Sebelum Memegang Mushaf
Dalam Kitab “Bidayatul Mujtahid” karya Ibnu Rusyd dijelaskan bahwa menurut Imam Malik, Abu Hanifah dan Syafi’i, keadaan suci (berwudhu) adalah syarat dibolehkannya seseorang untuk memegang Mushaf al-Qur’an. Ahl Zahir menyatakan...
Adzan Subuh Dua Kali Adzan Subuh Dua Kali
Pada saat liburan Desember 2017, penulis berkesempatan silaturrahim ke salah satu pesantren di Yogyakarta. Menginap satu malam di pesantren tersebut, penulis mendapatkan pengalaman yang unik pada waktu Subuh. Di tengah...